DPR Sang Pengemban Amanat Atau Sang Penghianat (Sebuah Curahan TerhadapMaraknya Kasus Korupsi yang Melanda Anggota DPR)
DPR adalah salah satu lembaga pemerintahan
tertinggi di bumi Pertiwi ini. DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) atau dalam bahasa
Islam disebut Majlis Syura, merupakan sebuah lembaga yang menjadi tempat
bercokolnya para cendekiawan bangsa yang mempunyai tugas mulia sebagai pengampu
aspirasi rakyat yang dipilih sendiri oleh rakyat melalui sistem demokrasi yang
berkedaulatan rakyat. Dengan harapan mampu mewujudkan cita-cita rakyat, yaitu
terwujudnya negara yang adil, sejahtera dan juga merakyat. Hal itu selaras
dengan apa yang telah dicita-citakan oleh para pendiri negeri ini, yang
tertuang dan terangkum dalam bait keempat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Namun, apa yang didapati oleh rakyat sekarang
tidaklah sesuai dengan apa yang telah diharapkan. Benang-benang asa yang telah
terajut perlahan mulai kusut dengan berbagai problematika yang silih berganti
mendera bumi Pertiwi ini. Kilauan butir-butir mutiara pancasila pun perlahan
mulai meredup, karena mulai tergerus oleh gemerlapnya globalisasi.
Lalu, apa yang sekarang bisa dibanggakan oleh para
petinggi negeri ini? Para pejuang aspirasi rakyat ini?. Disaat krisis moral
telah meradang dan mewabah keseluruh negeri, mereka bukannya menjadi tauladan
dan pelopor dalam upaya pembenahan akhlak. Justru sebaliknya, mereka malah ikut
tersangkut dan turut andil dalam menebarkan benih-benih kehancuran.
Mereka seakan tak sadar akan kehadirat Tuhan,
mereka seakan menganggap akhirat itu hanya ancaman semu yang tak perlu
dipusingkan. Dengan jeli mereka memanfaatkan keadaan, demi menimbun pundi-pundi
materil, halal dan haram bukanlah menjadi sebuah halangan dan perhitungan.
Karena bagi mereka, kesenangan di dunia fana lebih pantas untuk dimenangkan.
Mereka masih belum sepenuhnya sadar bahwa di bawah
sana masih banyak rakyat jelata yang merintih, terpuruk dan membutuhkan uluran
tangan serta menunggu realisasi dari umbaran janji-janji para petinggi negeri
ini, yang dulu mereka percayai akan mampu merubah keadaan dan membawa
kesejahteraan.
Di antara deraian gelombang problematika yang
begitu keras menghantam negeri tercinta dan ratusan kasus tentang kejahatan
tikus yang berhasil menjebol dan mengeruk uang negara. Mereka justru berani
menyuarakan kenaikan gaji dengan dalih menghindari korupsi. Tidakkah cukup
pengorbanan rakyat? melihat kebusukan akhlak dari para wakil rakyat, yang hanya
ingin menjadi konglomerat dan tak sadar bahwa dirinya adalah seorang pejabat yang
digaji dengan uang rakyat, sedang kehidupannya sangat jauh dari kata
merakyat.Tidakkah mereka sadar, bahwa harta yang mereka kumpulkan itu bukanlah
sesuatu yang kekal dan bisa menyelamatkan mereka dari siksa akhirat.
Tidakkah mereka melihat?, betapa pendidikan masih
tidak bersahabat bagi kalangan yang melarat, betapa keadilan masih jauh dari
apa sila kelima harapkan, betapa amanat hanya seonggok bualan yang penuh
penghianatan.
Apakah mereka benar-benar tidak sadar atau sekedar
berpura-pura tidak tahu bahwa perbuatan khianat mereka, dapat membuat mereka
menjadi bagian dari orang-orang munafik yang dilaknat Tuhan. Apakah mereka
tidak takut dengan adzab Tuhan yang sangat pedih ataukah mereka hanya
menganggap itu semua hanya sebuah hal semu semata.
Pantaskah DPR disebut sebagai rumah aspirasi
rakyat?, jika tikus-tikus penghianat masih berkeliaran dan bebas menggerogoti
uang rakyat. Mencari-cari kesempatan demi kembalinya modal yang telah terkucur
saat serangan fajar. Bukankah lebih baik jika DPR dikatakan sebagai sarang
penghianat, tempat tinggal para penyeleweng amanat rakyat, yang selalu acuh dan
sekan tak ingat akan hakikat dari kata merakyat.
Betapa sedihnya para pendiri negeri ini, jika
mereka melihat keadaan bumi pertiwi saat ini, yang mereka perjuangkan dengan
sepenuh hati dan tak kenal kata takut mati, dipimpin oleh orang-orang berdasi
yang merasa terhormat dan paling ditakuti. Namun, sejatinya mereka semua
kebanyakan hanya memikirkan masalah mereka sendiri, tanpa mau perduli dengan
apa yang terjadi di tanah Indonesia ini.
Cukuplah sudah kita menderita, menahan sakit hati
dan tangis tersiksa. Marilah kita mulai merajut kembali asa yang telah lama
kusut dan terlupa. Memunculkan lagi kilauan butir-butir mutiara Pancasila
dengan mengamalkan nilai-nilainya di kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Berpegang teguh akan agama, sehingga tak mudah runtuh dan terpesona akan
keindahan dunia yang fana. Berjuang bersama demi meraih cita, karena tak semua
bisa kita lakukan dengan keterbatasan ilmu yang kita punya. Biarlah para
petinggi negeri ini menyelesaikan setiap permasalahan yang ada, doakanlah
mereka dan percayalah bahwa diantara para penghianat pasti ada sosok yang
berhati emas yang benar-benar ikhlas mengemban amanat.
Itulah yang dibutuhkan negeri ini, sosok pemuda
yang berdalil agama dan berideologi Pancasila, yang benar-benar mengerti dan
bisa membedakan antara yang bathil dan yang haq. Menjadi sosok yang patriotis,
religius serta nasionalis. Menganggap sebuah amanah bukanlah sebuah bualan.
Namun, sebuah beban tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan penuh
keringat serta kejujuran.
Sosok yang seperti itu tidaklah kita bisa dapatkan,
jika di dalam kegiatan pendidikan, nilai-nilai moral baik dari agama maupun
Pancasila masih dinomer duakan dan lebih mementingkan eksistensi ilmu-ilmu
dunia yang diyakini akan melahirkan orang-orang pintar. Namun, inilah
permasalahan mendasar yang harus diselesaikan oleh para pengampu aspirasi di
negeri ini, mereka harus mengubah pandangan masyarakat dan pendidik khususnya
untuk menekankan nilai-nilai moralitas dan religiusitas dalam upaya mendidik
kader-kader pewaris bangsa. Karena bukan sekedar orang pintar yang dibutuhkan
di negeri ini, melainkan sosok yang mampu dan mau mencurahkan pikirannya untuk
menyelesaikan problematika di bumi pertiwi ini, berakhlak dan berbudi pekerti
luhur, serta bersungguh-sungguh dalam mengemban amanat adalah yang lebih utama.
Buat apa jika banyak kader-kader kita yang pintar di senayan, jika kepintaran
mereka hanya digunakan untuk mengelabui rakyat demi memuaskan nafsu dan hasrat.
Realita yang terjadi masa kini sungguh sangat
mencengangkan. Seseorang yang berlabel pesantren dan dianggap telah memiliki
moralitas dan religiusitas yang tinggi pun ikut terjerat dan terperangkap di
dalam gelapnya lembaga pemasyarakatan. Bergabung dan menyapa kumpulan
tikus-tikus pendahulunya. Apakah ini sebuah rekayasa yang sengaja diciptakan
untuk menghancurkan kehormatan dan harga diri sebuah nama atau inilah sebuah
fakta bahwa kemerosotan moral benar-benar telah mewabah dan meradang di bumi
Indonesia?.
Begitulah dunia politik, dunia yang di dalamnya tak
ada namanya kawan, sungguh kejam dan siap menenggelamkan siapa saja yang kalah
dalam persaingan. Dunia yang bahkan menjadi penyebab keretakan dan perpecahan
di kalangan umat-umat beragama dari zaman dahulu hingga sekarang, karena bagi
mereka kekuasaan adalah sebuah kehormatan dan bukti dari sebuah kekuatan.
Dewan Perwakilan Rakyat. Sampai kapan kalian akan
terus membiarkan rakyat melarat. Menjadikan gedung kalian sebagai sarang para
penghianat, bukannya sebagai rumah aspirasi rakyat. Di manakah hati nurani
kalian wahai pejuang aspirasi rakyat. Tidakkah kalian ingat bahwa kalian
dipilih dan telah diberikan amanat. Demi menuntaskan segala problematika
masyarakat. Maka apapun yang kalian perbuat kami akan terus melihat dan
berharap semua yang kalian kerjakan itu akan menimbulkan maslahat bagi ummat.
Memang rakyat lebih banyak diam dan bungkam. Namun,
dalam hati yang paling dalam mereka senantiasa berdo’a dengan penuh pengharapan
bahwa Tuhan pasti akan memberikan negara ini generasi-generasi yang cerdas nan
beradab sebagai teladan, yang akan mengemban amanat rakyat secara
sungguh-sungguh dan mampu menampung dan memperjuangkan aspirasi rakyat hingga
tercapainya cita-cita bangsa serta mengembalikan DPR kepada fungsinya sebagai
rumah aspirasi rakyat dengan menghapus segala penghianatan.
Segala drama politik ini harus disudahi, seluruh
lingkup pemerintah harus mampu merubah diri. Menjalankan kehidupan pemerintahan
sesuai dengan nilai-nilai yang sudah dibukukan di dalam Pancasila dan
Undang-Undang Dasar. Menjadikan kepentingan rakyat sebagai prioritas di atas
kepentingan pribadi dan golongan. Melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa
dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dan persatuan, serta menjadikan negara
Indonesia menjadi negara adil, makmur dan sejahtera.
Komentar
Posting Komentar