Belajar Maqashid al-Syari’ah Bersama Prof. Jasser Auda
Senin (13/02/2017) Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) beserta Prodi Magister Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) menyelenggarakan kuliah umum yang mengangkat tema “Pendekatan Maqashidi Untuk Memahami Al-Quran Dalam Konteks Kontemporer” yang diperuntukkan khusus kepada segenap Mahasiswa dan Mahasiswi kedua Prodi. Kuliah umum ini bertempat di Teatrikal Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Acara ini tampak begitu diminati oleh para Mahasiswa karena
narasumber yang dihadirkan merupakan seorang yang sudah tidak asing lagi
di telinga para mahasiswa. Beliau adalah Prof. Jasser Auda yang
merupakan pakar Maqashid al-Syari’ah dan salah satu cendekiawan Muslim kontemporer yang mempunyai banyak karya dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Antusiasme para mahasiswa dapat terlihat dengan jelas dengan
tertempatinya seluruh kursi yang ada. Acara pun dibuka dengan sambutan
yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Dr.
Alim Ruswantoro yang sedikit menyinggung tentang pemikiran serta
karya-karya narasumber. Dekan menyampaikan bahwa pemikiran Prof. Auda
memberi bermanfaat bagi studi Islam kontemporer sehingga para mahasiswa
diharapkan dapat mengambil inspirasi darinya.
Berlanjut pada inti acara, Lien Iffah Naf’atu Fina selaku moderator
dalam acara ini mempersilahkan Prof. Jasser Auda untuk memaparkan materi
sesuai dengan tema yang diangkat. Materi akan disampaikan dalam bahasa Inggris.
Beliau membuka diskusi dengan mengatakan, “Maqashid al-Syari’ah is Maqashid al-Qur’an” sebagai bentuk penegasan bahwa diantaranya keduanya tidak ada perbedaan. Materi dilanjutkan dengan bagaimana cakupan hifz al-nafs, hifz al-nasl dan hifz al-mal perlu
diluaskan untuk konteks kontemporer. Prof. Jasser Auda juga menyinggung
tiga pendekatan yang salah terhadap al-Qur’an, yang disebutnya non-maqashidi approaches, yakni pendekatan yang parsial, dekonstruksi, dan literalis.
Terdapat poin yang menarik saat beliau menjelaskan tentang konsep
keadilan. Beliau mengatakan bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada satu
surat pun yang dinamai dengan nama surat al-‘Adl. Hal ini
dikarenakan Allah ingin mengajari kita tentang konsep adil melalui
kisah-kisah sejarah para umat-umatnya terdahulu yang digambarkan di
dalam al-Qur’an, dan melalui kelompok-kelompok ayat yang lain. Artinya maqasid al-Qur’an tidak hanya digali dari ayat-ayat etika-hukum. Seluruh ayat di dalam al-Qur’an mengandung maqasid yang bisa digali.
Keaktifan mahasiswa nampak sangat luar biasa dengan banyaknya
mahasiswa yang mengacungkan tangan saat sesi pertanyaan. Pertanyaan
tersebut semakin mempertajam materi hari ini, misalnya pertanyaan
terkait tahapan proses penafsiran al-Qur’an dengan pendekatan ini.
Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB. itu pun ditutup manis dengan
wejangan yang diberikan oleh Prof. Jasser Auda. Beliau menghimbau para
mahasiswa untuk “membaca, membaca dan membaca” sebagai kunci dari
pengetahuan yang dalam dan luas. Beliau juga mengajak mahasiswa untuk
tidak terlalu fokus dan terbawa dengan isu politik praktis, tetapi
memahami dan memberikan catatan kritis kepada sistem besar korup yang
menjadi mesin bagaimana dunia saat ini dijalankan.
(Alif Jabal Kurdi/ Mahasiswa Semester 2 Prodi IAT)

Komentar
Posting Komentar