cerminan masyarakat madani

Heran sama orang yang berpikiran sempit yang hanya memandang suatu hal lewat kulit (cover) dan dengan cepatnya bisa menyimpulkan bahwa isi dari hal tersebut buruk, salah, sesat, berbahaya, dll. Ini sama saja seperti orang mau beli buku, baru liat cover bukunya jelek udah bilang "ini buku abal-abal gak berkualitas atau apapun itu", penulisnya katanya gak terkenal (padahal dianya gak tau) dan banyak cercaan lainnya.
Dari sini bisa dilihat, mana orang yang objektif mana yang tidak. Orang yang objektif akan senantiasa menilai sesuatu setelah mendapatkan pengalaman empirisnya, setelah membaca keseluruhan baru dia akan menyimpulkan. Hal ini jauh berbeda dengan orang yang memandang sesuatu dengan sisi subjektifnya, orang tersebut akan menganggap sesuatu itu baik/buruk sejak kesan pertama dan jika sudah dianggap buruk maka benar-benar ditinggalkan dan tak akan pernah dibuka apalagi ditelaah.
Mungkin inilah kebiasaan yang harus direkonstruksi ulang di tengah tatanan masyarakat kita -terutama warga masyarakat akademis-.
العبرة بالجوهر لا بالمظهر
Sikap objektif dalam menilai sesuatu harus menjadi sesuatu yang niscaya untuk dibiasakan. Karena dengan demikian, sikap saling kritik tak berdasar, saling menjustifikasi dan sikap pembenaran sepihak secara berangsur akan tergantikan dengan sikap tasamuh dan tawasuth dalam bingkai ke-Bhinekaan. Jaya Indonesia !!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEHIDUPAN MADANI DALAM HARMONISASI BUDAYA DAN DAKWAH

Belajar Maqashid al-Syari’ah Bersama Prof. Jasser Auda

AN ESSAY ABOUT DREAM: REACH THE DREAM AND GET THE BRIGHT FUTURE