Media Oh Media
Semakin hari semakin gencar aliran-aliran informasi yang membawa kabar
menyedihkan tentang nasib saudara-saudara seiman kita yang sedang
mengalami tragedi kelam di Suriah. Konflik-konflik yang terjadi begitu
cepatnya sampai ke telinga kita, hingga menimbulkan rasa sedih yang
mendalam sekaligus geram dengan tindakan-tindakan brutal yang terus
terulang setiap harinya. Mendengar banyaknya korban anak-anak maupun
wanita yang seharusnya tak menjadi sasaran membuat hati dan jiwa serasa
panas dan ingin membalas semua tindakan-tindakan mereka para penjahat
dan penghancur masa depan umat.
Namun, tragedi kelam tersebut juga menimbulkan banyak pertanyaan
mendasar di dalamnya. Dimana kita melihat banyaknya masyarakat yang
masih bertanya-tanya tentang siapa dalang di balik semua permasalahan
yang membuat banyaknya korban yaang berjatuhan itu. Kebingungan
masyarakat ini terjadi akibat banyaknya persepsi-persepsi yang mereka
dapati dari media-media informasi terkait tentang siapa yang bertanggung
jawab dan menajadi dalang dari semua konflik yang terjadi.
Mereka menilai antara satu media dengan media lainnya kerap kali
menyampaikan informasi yang berbeda-beda, yang satu mengatakan bahwa
yang patut disalahkan dan menjadi dalang atas semua tragedi ini adalah
kelompok zionis Amerika beserta antek-antek Yahudi yang dikabarkan pula
sedang gencar melakukan invasi di Timur Tengah dan juga mempunyai misi
terselubung untuk menguasai seluruh daulah Islamiyah yang ada disana.
Di sisi lain ada pula media yang mengatakan bahwa tragedi itu adalah
sebab dari konflik internal di negara tersebut, dimana dua kelompok
yang bertikai itu adalah dua firqoh agama yang memiliki paham yang
bersebrangan yakni antara kelompok Sunni dan Syiah.
Dan akhir-akhir ini muncul informasi lain yang menyatakan bahwa apa
saja yang terjadi di Suriah dan disebarkan oleh media yang
menginformasikan bahwa Sunni-Syiahlah yang bertikai adalah sebuah
kebohongan dan merupakan tindakan provokasi untuk menyembunyikan
kebenaran yang haqiqi serta ingin memecah belah umat Islam. Informasi
terakhir ini juga menafikan tentang informasi-informasi sebelumnya yang
telah beredar di masyarakat. Informasi terakhir ini mengklaim bahwasanya
seluruh informasi yang beredar tersebut telah disimpangsiurkan oleh
media-media militan takfiri yang sebenarnya merekalah dalang dari
pemberontakan yang terjadi di Suriah. (baca :
http://www.nu.or.id/post/read/68187/al-syami-ungkap-10-fakta-suriah-yang-ditutup-tutupi-media-takfiri)
Bisa kita lihat dengan jelas bahwa media informasi ternyata juga
dijadikan alat untuk memprovokasi atau bahkan sebagai alat memecah
belah. Media informasi yang seharusnya menjadi rujukan untuk mengetahui
berita-berita faktual yang valid dengan sumber terjamin malah berisikan
bermacam-macam informasi rancu yang menyajikan fakta-fakta palsu dan
dipergunakan oleh pihak-pihak tertentu demi menyokong terjalannya
kepentingan-kepentingan mereka pribadi.
Maka, sudah semestinya kita harus bisa meningkatkan kewaspadaan kita
dengan lebih selektif lagi dalam mengambil informasi-informasi yang
beredar di masyarakat terutama untuk informasi-informasi yang mengandung
SARA, serta tidak mudah menyebarkan informasi-informasi yang kita
dapatkan sebelum kita mengecek kevalidan dan sumber dari informasi yang
kita dapatkan. Karena dalam realitanya, kita banyak melihat dan tak bisa
dipungkiri kita pun melakukannya di grup-grup social media kita
sendiri. Bisa saja sebuah informasi yang kita dapat, itu juga berasal
dari media-media takfiri nasional yang begitu gencarnya melaksanakan
gerakan pemurnian Islam serta ingin mengubah ideologi negara (hanya
contoh).
Sebagai akademisi hendaknya pula kita menyelesaikan rasa kritis kita
terhadap sebuah permasalahan dengan mencari literatur-literatur yang
berkaitan dan sudah terakreditasi ataupun mengadakan diskusi-diskusi
dengan para ahli atau pakar yang sudah bisa dipastikan kejelasan
informasinya, bukan hanya dengan mengandalkan informasi-informasi yang
mengalir setiap harinya di media sosial kita yang tidak jelas sumber dan
kevalidan datanya.
Sungguh semakin hari, kehidupan kita
semakin dekat dengan akhirnya. Semakin hari pula kita merasakan bahwa
kejujuran mulai luntur dan terangkat dari kehidupan kita. Krisis moral
bertebaran dimana-mana. Taklid buta pun seakan hal biasa. Selalu merasa
benar dan tak mau dibenarkan hingga sensitif jika ada pernyataan yang
sesuai dengan pemahaman merupakan beberapa hal nge-trend yang sedang
terjadi di negara kita, Indonesia. Jadi, sekarang kita juga hanya
tinggal menunggu saja saat dimana lembaran-lembaran pedoman hidup kita
menjadi sekedar lembaran putih dan tak bermakna.Oleh : Alif Jabal Kurdi
(CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Komentar
Posting Komentar